Keunikan dari Budaya Suku Toraja yang Cukup di Kagumi

Keunikan dari Budaya Suku Toraja yang Cukup di Kagumi

Keunikan dari Budaya Suku Toraja yang Cukup di Kagumi – Indonesia adalah negeri yang kaya akan keluaran macau keanekaragaman budaya, salah satunya terletak pada suku-suku yang mendiami setiap daerah di tanah air. Salah satu suku yang memiliki kekayaan budaya yang menakjubkan adalah suku Toraja. Suku Toraja tinggal di daerah pegunungan Sulawesi Selatan dan terkenal dengan rumah adat mereka yang unik dan memikat. Rumah adat ini adalah simbol keindahan dan kearifan budaya yang memikat. Indonesia kaya akan tradisi yang unik dari beragam suku. Salah satunya, Suku Toraja yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Kebudayaan Suku Toraja memiliki daya tarik tersendiri.

Pasalnya, nuansa mistik masih melekat pada suku ini. Berbagai tradisi leluhur pun masih dijaga sampai sekarang. Hal ini menarik perhatian para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Berbagai kelompok etnis mewarnai keragaman yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Suku Toraja. Suku Toraja adalah penduduk asli yang berasal dari Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan yang menetap di sekitar pegunungan bagian utara. Tradisi suku Toraja terkenal dengan keunikananya. Hal ini lantas membuat Toraja menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang tersohor hingga mancanegara. Suku Toraja di Sulawesi selatan mendiami Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Suku Toraja memiliki sejumlah tradisi unik yang menarik untuk disaksikan. Salah satu tradisi yang cukup populer adalah Rambu Solo, atau upacara adat kematian suku Toraja. Namun, ada banyak tradisi suku Toraja lainnya yang tidak kalah unik.

Baca Juga : Memahami Konsep dan Bagian Rumah Adat Suku Madura

Ma’Nene

Ma’Nene merupakan upacara mengganti pakaian dan merias jasad keluarga yang telah lama dikuburkan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, setelah panen besar di bulan Agustus. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan slot gacor gampang menang jasad dari dalam peti. Setelah itu, anak dan cucunya lah yang membersihkannya dan mendandani jasad tersebut selayaknya masih hidup. Selama proses pembersihan berlangsung, kaum laki-laki membentuk lingkaran. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang melambangkan kesedihan dan kebahagiaan jasad sebelum meninggal. Tujuannya, supaya keluarga yang ditinggalkan jasad terhibur.

Rompo Bobo Bonnang

Tradisi yang satu ini merupakan upacara untuk melangsungkan pernikahan. Tata caranya paling sederhana. Keluarga mempelai pria beserta mempelai pria akan mendatangi keluarga mempelai wanita. Selanjutnya, orang tua mempelai wanita akan menyambut kedatangan mereka dan diadakanlah perjamuan makan bersama. Setelah itu, para keluarga mempelai pria akan kembali pulang. Namun, mempelai pria yang akan tetap tinggal di rumah mempelai wanita.

Perkuburan Adat Toraja

Suku Toraja memiliki starlight princess beragam jenis tempat pemakaman. Ada pemakaman dalam goa, pemakaman batu ukir, pemakaman gantung, pemakaman pohon, dan sebagainya. Yang paling mahal adalah pemakaman batu ukir. Oleh karena itu, hanya jenazah para bangsawan yang dimakamkan di pemakaman batu berukir. Tempat pemakaman di Toraja yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan.

Rumah Adat Tongkongan

Ketika berkunjung ke Toraja, salah satu ciri khas yang paling mudah dikenali adalah rumah adat Tongkongan. Bentuk atapnya yang menjulang ke depan dan ke belakang menjadi ciri khas Suku Toraja. Rumah ini didirikan di atas tumpukan kayu dan dihiasi banyak ukiran warna merah, hitam dan kuning. Ada tiga jenis rumah Tongkongan, yaitu tongkonan layuk yang digunakan untuk pemerintahan, tongkonan pekamberan yang dimiliki keluarga dengan wewenang tertentu, serta tongkonan batu untuk keluarga biasa.

Rambu Solo’

Rambu Solo’ adalah tradisi pemakaman ala Suku Toraja. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati sekaligus mengantarkan arwah menuju alam akhirat melalui serangkaian ritual dan doa. Ritual yang dilakukan berupa pertunjukan seni, adu kerbau, hingga mengantarkan jenazah. Tradisi ini bisa berlangsung selama beberapa hari sesuai dengan status sosial keluarga penyelenggara Rambu Solo’. Biayanya pun tidak sedikit. Semakin kaya seseorang, semakin mahal biaya pemakamannya.

Tinggoro Tedong

Tinggoro Tedong merupakan tradisi upacara kematian. Ini masih termasuk dalam serangkaian upacara Rambu Solo’. Pada upacara ini, prosesi penyembelihan kerbau dilakukan dengan cara menebas leher kerbau dengan satu kali tebas saja. Menurut kepercayaan leluhur orang Toraja, kerbau merupakan hewan tunggangan bagi arwah jenazah untuk menempuh perjalanannya menuju alam akhirat.

Sisemba

Sisemba’ adalah tradisi permainan adu kaki yang dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Tradisi ini dilakukan di lapangan atau tempat terbuka pada saat merayakan panen raya. Biasanya, permainan ini mempertemukan dua kubu yang berasal dari dua desa yang berbeda. Pesertanya terdiri dari dua orang untuk setiap kubu. Cara bermainnya, kedua kubu bergerak maju, lalu melakukan tendangan ke arah lawan. Terkesan brutal, ya? Walaupun begitu, ada wasit yang bertugas untuk menegur, melerai, bahkan menghentikan pertandingan jika ada yang mengalami cedera atau berbuat curang.

Rompo Allo

Romo Allo merupakan upacara pernikahan yang paling mewah. Perayaan pernikahan bisa dilakukan beberapa hari dengan acara yang cukup meriah. Oleh karena itu, upacara jenis ini hanya dilakukan oleh para bangsawan atau keluarga yang berstatus sosial tinggi saja.